Indonesia bukan negara yang asing dengan keberagaman. Dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote kita hidup berdampingan dengan ribuan suku dan budaya, ratusan bahasa, dan agama yang berbeda. Tapi justru di sinilah tantangannya bagaimana kita bisa tetap satu, sementara perbedaan itu nyata ada di depan mata?

Jawabannya ada pada satu kata yang belakangan sering kita dengar: moderasi beragama. Saya telah menulis topik ini beberapa kali antara lain terbit di jurnal Al-Afkar tahun 2021 dan di jurnal Millah tahun 2022. Namun, topik ini seperti tak ada habisnya – semakin dikaji semakin banyak celah diskusi.

Sayangnya, banyak orang yang masih salah paham. Moderat itu bukan berarti setengah-setengah dalam beragama. Bukan juga berarti mencampuradukkan keyakinan satu agama dengan yang lain. Moderat artinya kita beragama dengan teguh, tapi tetap bisa hidup rukun, menghargai sesama, dan tidak mudah terpancing emosi hanya karena perbedaan.

Islam Sudah Mengajarkan Ini Sejak Lama

Jauh sebelum kata “moderasi” populer di media sosial, Al-Qur’an sudah berbicara tentang hal ini. Dalam QS. Al-Baqarah ayat 143, umat Islam disebut sebagai ummatan wasathan — umat yang berada di tengah-tengah. Maknanya dalam: tidak berlebihan dalam beragama, tidak pula masa bodoh. Adil, seimbang, dan menjadi contoh yang baik bagi orang lain. Itulah orang yang moderat.

Kata wasathiyah (moderasi) dalam Al-Qur’an punya empat makna inti: adil, berada di tengah, menjadi yang terbaik, dan berwawasan luas. Kalau keempat nilai ini kita pegang, maka sikap ekstrem, baik ke kanan maupun ke kiri tidak akan punya tempat dalam diri kita.

Empat Pilar Moderasi yang Perlu Kita Pegang

Pemerintah dan para ulama merumuskan moderasi beragama ke dalam empat pilar utama. Keempatnya saling berkaitan dan semuanya relevan dengan kehidupan kita sehari-hari.

Pertama, Komitmen Kebangsaan. Mencintai Indonesia adalah bagian dari iman. Seorang Muslim yang baik tidak akan merusak negerinya sendiri atas nama agama. Justru sebaliknya, nilai-nilai Islam seperti keadilan, kejujuran, dan kasih sayang adalah pondasi yang memperkuat bangsa. Kalau ada yang mengajarkan bahwa mencintai NKRI bertentangan dengan Islam, itu jelas salah besar.

Kedua, Toleransi. Toleransi bukan berarti kita setuju dengan semua keyakinan orang lain. Tapi kita menghormati hak mereka untuk beragama. Kita bisa duduk semeja, bertetangga, bahkan bekerja sama dengan orang yang berbeda agama, tanpa harus meninggalkan identitas kita sendiri. Di sinilah indahnya Indonesia, toleransi sudah mengakar jauh sebelum negara ini berdiri.

Ketiga, Anti Kekerasan. Islam adalah agama rahmatan lil’alamin kasih sayang untuk seluruh alam. Tidak ada satu pun ajaran Islam yang membenarkan kekerasan atas nama dakwah. Teror, intimidasi, bahkan ujaran kebencian bukan bagian dari Islam. Kalau ada yang mengatasnamakan agama untuk menyakiti orang lain, mereka sedang mengkhianati agama itu sendiri.

Keempat, Akomodatif terhadap Budaya Lokal. Islam di Indonesia tumbuh bersama budaya setempat. Walisongo dahulu tidak menghapus tradisi lokal, mereka justru mengisinya dengan nilai-nilai Islam. Batik, wayang, seni gamelan, dan lainnya bisa menjadi media dakwah tanpa harus saling meniadakan. Agama dan budaya bukan musuh, keduanya bisa berjalan beriringan selama tidak menyimpang dari prinsip dasar iman.

Tanggung Jawab Kita Generasi Muda

Di era digital seperti sekarang, arus informasi mengalir deras tanpa henti. Hoaks, provokasi, dan narasi ekstrem bisa masuk ke genggaman tangan kita hanya dalam hitungan detik. Generasi muda adalah kelompok yang paling besar menjadi konsumen media sosial sekaligus yang paling rentan terpapar pemahaman yang menyimpang.

Maka moderasi beragama bukan sekadar wacana. Ini adalah bekal. Ketika kita punya fondasi pemahaman yang kuat, kita tidak mudah terprovokasi. Kita bisa memilah mana informasi yang layak disebarkan, mana yang harus disaring.

Menjadi moderat bukan pilihan yang lemah. Justru itulah pilihan orang-orang yang berpikir jernih dan berhati lapang. Menjadi moderat mereka yang berani menjadi jembatan di tengah perbedaan, bukan tembok yang memisahkan.

Oleh: Dr. Apri Wardana Ritonga, M.Pd. (Kepala LPPM Institut As-Syifa)

Loading

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

1 × 5 =